Apakah Tidak Menggunakan Plastik Saja Sudah Go-green?

Sejujurnya judul di atas merupakan hal yang menghantui saya, tepatnya beberapa waktu belakangan.

Rasanya, gerakan lingkungan hijau sudah tidak begitu hype. Bukan tidak atau tidak dilakukan, tapi tidak terdengar booming sampai, misal, orang yang tidak akses media sosial bisa tahu. Tapi bisa juga mungkin karena tidak masuk circle of concern saya secara konsisten. Walau begitu, bagaimana pun tema lingkungan adalah tema yang juga saya perhatikan.

Kalau lingkungan kita rusak, bumi kita rusak, kita mau tinggal di mana? Mars sudah hancur karena ulah Evolt, gais ahaha.

Bukan, hidup di Mars masih menjadi mimpi yang mahal sekali untuk terjadi. Lagipula, seadainya kita bisa pindah planet, bukankah sungguh tidak bertanggung jawab sekali? Udah dirusak, cari yang lain.

Saya belum banyak baca mengenai go-green. Tapi sekilas kita bisa tahu, dari perspektif awam, bahwa gerakan hidup hijau adalah menghemat energi dan tidak melakukan hal yang merugikan lingkungan semisal buang sampah sembarangan. Kemudian, meminimalisasi penggunaan plastik juga termasuk pola hidup hijau.

Tapi, kembali lagi, apa benar mengurangi penggunaan plastik saja sudah cukup?

Misal saja kita ubah menggunakan kertas atau paperless bagaimana? Hmmm gimana ya? Kertas kan dari pohon. Banyak pohon yang harus ‘dikorbankan’ berarti? Atau papeless saja? Plis gadget pakai listrik dan semakin banyak jumlahnya, pelepasannya ke ozon juga bikin ozon kita panas.

Walau tentu, semua kembali bagaimana penggunaan daya kita.

Yang menarik tentunya, go-green juga berkenaan dengan zero waste.

Cuma, dalam pemahaman saya, zero waste lebih ke ketat lagi langkah preventifnya.

“Zero Waste: The conservation of all resources by means of responsible production, consumption, reuse, and recovery of products, packaging, and materials without burning and with no discharges to land, water, or air that threaten the environment or human health.”

Last updated December 20th, 2018

http://zwia.org/zero-waste-definition/

Saya pernah baca buku. Saya setidaknya setuju bahwa hubungan kita dan alam perlu diubah. Poin pentingnya adalah mengenyahkan kapitalisme, dan insdustri. Ehe susah si tapi kuncinya di situ. Berikut tautan tentand deskripsi bukunya. Mungkin berminat.

http://marjinkiri.com/product/lingkungan-hidup-dan-kapitalisme-sebuah-pengantar/

Cuma pertanyaan mendasar yang perlu terjawab berkenaan keresahan saya adalah apakah orang juga memikirkan hal yang sama? Seberapa banyak? Seberapa besar eksposurenya? Hal ini paling tidak bisa dilihat (meski sedikit) dari cuitan di media sosial.

Grafik di bawah ini akan memperlihatkan seberapa besar (kalau tidak salah region Indonesia) bicara zerowaste. Setidaknya, hal ini bisa menjadi indikasi kecil kepedulian lingkugan.

image

Jadi bagaimana menurutmu?

Acknowledgement

Tulisan ini dapat hadir di hadapan pembaca berkat data dari Drone Emprit Academic (DEA). Terima kasih kepada Bapak Ismail Fahmi (pengembang), Tim DEA dan Universitas Islam Indonesia (UII) yang telah mendukung riset lebih lanjut mengenai social media dan big data.