Banjir dalam Perspektif Medsos

Thoriq Tri Prabowo

BANJIR di wilayah maritim seperti Indonesia memang nyaris tidak terelakkan apabila manajemen sumber daya airnya buruk. Indonesia adalah negara kepulauan, dengan 70% wilayahnya adalah laut. Selain laut, di Indonesia juga terdapat banyak sungai. Melihat begitu banyaknya volume air di Indonesia, tentu hal tersebut menjadi peluang dan tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi masyarakat Indonesia.

Baru-baru ini Badan Metreologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa puncak musim hujan di Indonesia pada tahun ini akan terjadi di awal tahun.

Tahun baru yang semula identik dengan hingar-bingar keramaian perayaan malam pergantian tahun. Pada tahun ini menjadi sedikit berbeda bagi masyarakat Jakarta pada tahun baru ini. Jakarta diguyur hujan lebat menjelang waktu pergantian tahun sampai dengan awal tahun ini, yang menyebabkan terjadinya banjir di hampir seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya. Fenomena tersebut tak pelak menuai pelbagai reaksi publik baik yang pro maupun kontra terutama di jagat maya, internet.

Drone Emprit

Internet memberikan kemudahan bagi manusia untuk bertukar informasi, termasuk dalam hal banjir. Melalui jaringan internet, yang notabene dapat menjangkau ke seluruh belahan dunia memberikan kemudahan sekaligus tantangan bagi penggunanya. Informasi mengenai banjir di media sosial (medsos) terkadang membingungkan karena data yang diproduksi begitu masif dan derasnya arus informasi. Sulit sekali membaca kebenaran dalam simpang siur berita yang dinarasikan oleh pelbagai pihak dan media di medsos.

Konvergensi data yang berasal dari pelbagai kanal membanjiri layar kaca dan gawai publik, jumlahnya pun cenderung naik secara drastis dan berkelanjutan. Pada kondisi tersebut data telah bertransformasi menjadi big data. Martin Hilbert (2011) seorang pakar data science mendefinisikan bahwa big data adalah istilah umum untuk segala himpunan data (data set) dalam jumlah yang sangat besar, rumit dan tak terstruktur sehingga menjadikannya sukar ditangani apabila hanya menggunakan perkakas manajemen basis data biasa atau aplikasi pemroses data tradisional belaka.

Membaca banjir di ibu kota melalui pantauan media akan mustahil dilakukan dengan perkakas data tradisional. Sebaliknya, teknologi big data mampu merealisasikan hal tersebut. Salah satu alat pembaca data yang diciptakan anak bangsa, Drone Emprit dapat digunakan untuk membaca himpunan data dalam skala besar yang utamanya berasal dari medsos. Pemetaan data melalui medsos ini juga dikenal dengan metode Social Network Analysis (SNA).

Membaca Realitas

Publik menilai tragedi banjir di Jakarta secara beragam. Berdasarkan data yang disitir dari portal Drone Emprit Academic (DEA) diketahui bahwa terdapat sekitar 53.976 cuitan yang menyebut kata banjir dalam platform twitter. Cuitan tersebut memuncak tepat pada hari pertama di tahun baru ini. Narasi terkait banjir Jakarta yang terdapat di medsos tersebut bisa dikatakan relatif organik. Berdasarkan hasil analisis robot diperoleh skor yang relatif rendah, yaitu berada dalam rentang nilai 1.5 dari 5.0 yang berarti mayoritas percakapan benar-benar dilakukan oleh akun yang dioperasikan manusia bukan robot.

Sentimen publik terhadap banjir ini pun tidak seragam, yaitu 60% publik menanggapi positif, 37% negatif dan 2% netral. Adapun yang dimaksud positif adalah publik merespon gejala banjir dengan pernyataan yang rasional serta bernuansa konstruktif. Sebaliknya sentimen negatif yang dimaksud adalah sentimen yang merujuk pada narasi yang berpotensi menimbulkan pro dan kontra. Sedangkan netral berarti tidak merujuk pada dua narasi yang terpolarisasi baik pro maupun kontra, melainkan membentuk kluster narasi poros tengah.

Dari seluruh percakapan publik, baik yang pro maupun kontra keduanya sepakat bahwa saat ini tindakan preventif terhadap banjir ini perlu dilakukan terutama untuk dilakukan pada musim hujan seperti sekarang ini. Meskipun demikian, narasi kemarahan publik terhadap pemangku kebijakan baik pemerintah tingkat daerah maupun nasional juga tak dapat ditutupi. Beberapa tokoh yang cukup menjadi sentral percakapan adalah tokoh dari kalangan aktivis, influencer serta representasi pemerintah. Selain cuitan, medsos juga diramaikan oleh beberapa gambar serta video yang dibagikan dengan pelbagai narasi yang mengiringinya.

Banjir seperti halnya topik yang lain selalu menarik perhatian warganet untuk turut membicarakannya. Narasi yang bergumul kerap kali bias serta mengandung narasi komparatif. Hal tersebut kerap membuat publik bingung karena informasi yang akurat maupun tidak sudah tercampur aduk. Namun hal tersebut terkadang menyulitkan publik untuk membaca realita, alih-alih mendapatkan informasi akurat publik justru terjebak dalam pusaran hoax dan post-truth. Melalui metode SNA, medsos dapat digunakan untuk membaca realitas secara akurat. Narasi terkait banjir yang akurat dapat digunakan masyarakat untuk melakukan tindakan preventif untuk meminimalkan kerugian dan korban. 

***

Thoriq Tri Prabowo, SIP., M.IP adalah Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia aktif menulis di media massa dan kerap memberikan pelatihan kepenulisan. Untuk menghubungi Thoriq silakan kontak melalui: toriq.prabowo@uin-suka.ac.id

Diterbitkan oleh Radar Jogja (https://radarjogja.co/2020/01/06/banjir-dalam-perspektif-medsos/) pada 06/01/2020