Drone Emprit

Drone Emprit

Dalam Seminar & Workshop ‘Drone Emprit Academic’ yang digelar di Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, Selasa (19/11) lalu, Rektor UII Fathul Wahid memaparkan mengenai kondisi terkini di Indonesia sebagai dampak dari penetrasi internet yang luar biasa.

 

Dampak yang paling kentara di antaranya adalah semakin aktifnya warganet saling bertukar konten. Sayangnya, hal ini juga memunculkan sisi negatif dimana penyebaran hoaks semakin dahsyat sehingga menyebabkan warganet kian tak bisa objektif dalam melihat suatu persoalan.

 

Contoh pada perhelatan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu, dimana kita bisa merasakan begitu sulitnya mendapatkan informasi yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun sebenarnya informasi tersaji sedemikian banyaknya di dunia maya, namun ternyata hoaks dan disinformasi yang ditemui pun sama banyaknya.

 

Media massa mainstream saat itu dianggap gagal menempatkan diri sebagai institusi yang netral dalam peta perpolitikan. Bahkan karena banyak faktor, seperti kepemilikan perusahaan media dan ideologi media yang bersangkutan, menyebabkan in­formasi yang disajikan seringkali menjadi bias.

 

Saat situasi yang tak menentu tersebut terjadi, muncul sebuah entitas yang menamakan dirinya Drone Emprit. Seperti diungkapkan pendirinya, Ismail Fahmi, Drone Emprit adalah sebuah sistem big data yang menangkap dan menganalisis percakapan di media sosial khususnya di Twitter.

 

Melalui sistem Social Network Analysis (SNA)-nya, Drone Emprit menjadi kabar bagus bagi dunia jurnalisme di Indonesia. Meskipun Fahmi sedari awal menegaskan bahwa sistemnya tersebut tidak bisa mengatakan suatu berita benar atau tidak, setidaknya Drone Emprit sanggup membedakan mana konten dari akun asli dengan konten buatan para pendengung (buzzer) di media sosial.

 

Sistem seperti Drone Emprit ini semestinya dimanfaatkan wartawan. Fahmi beberapa waktu yang lalu pernah menyarankan agar wartawan dari berbagai media bergabung dan mengerjakan proyek kolaborasi jurnalisme bernama Kroscek. Fahmi agaknya menyadari, sebuah sistem canggih seperti Drone Emprit akan percuma saja jika tidak memperoleh sokongan dari sumber daya manusia handal yang telah terbiasa mengungkap fakta, yakni para wartawan.

 

Seperti pernah diungkapkan Bill Kovach dalam bukunya ‘Sembilan Elemen Jurnalisme’, kewajiban jurnalisme pertama adalah pada kebenaran. Di era media sosial yang penuh dengan berita-berita hoaks bertebaran sekarang ini, agaknya pencarian para jurnalis untuk mendapatkan kebenaran tersebut perlu didukung oleh sistem big data seperti Drone Emprit.

Diterbitkan oleh fernanrahadi.com (http://www.fernanrahadi.com/drone-emprit/) pada 23/11/2019