Jakarta Banjir, Anies Dikepung

Jakarta Banjir, Anies Dikepung

Awal tahun 2020, Jakarta dan daerah sekitarnya mendapatkan kado awal tahun yang tidak menyenangkan dengan terjadinya banjir bandang di beberapa tempat. Hujan deras yang mengguyur Jakarta dimalam tahun baru memicu banjir yang merendam pemukiman, jalan, bahkan bandara. Berdasarkan data BNPB per tanggal 4 Januari 2020, wilayah terdampak berjumlah 308 kelurahan dan 103 kecamatan dengan jumlah pengungsi mencapai 92,261 orang. BNPB juga menyebutkan korban jiwa mencapai 60 orang yang tersebar di daerah Jabodetabek.

Musibah banjir yang melanda Jakarta sekitarnya diawal tahun tidak hanya menjadi berita hangat secara nasional, juga menjadi perbincangan netizen di dunia maya. Anies Baswedan sebagai orang nomor satu Jakarta menjadi pihak yang paling sering diperbincangkan. Hal yang menarik dianalisa adalah bagaimana tanggapan netizen terhadap banjir Jakarta dan apa sentimen netizen terhadap Anies sebagai Gubernur Jakarta dalam penanggulangan banjir ini. Analisa ini menggunakan data Drone Emprit pada pola percakapan di Twitter dengan topik Jakarta Banjir periode waktu 30 Desember 2019 - 6 Januari 2020. Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan digunakan sebagai publikasi dalam Drone Emprit Academic.

Volume dan Tren

Total percakapan yang menggunakan kata Jakarta Banjir di Twitter pada periode 30 Desember 2019 - 6 Januari 2020 pukul 16.40 WIB mencapai 349,041 mentions dengan tren tertinggi terjadi pada tanggal 1 dan 2 Januari dengan jumlah penyebutan mencapai 120,934 dan 102,943 mentions.

Terlihat pada Gambar 1, para pengguna Twitter sudah mulai ramai menyebutkan Jakarta Banjir pada malam 31 Desember dengan jumlah penyebutan 3,437 dan mencapai puncaknya pada tanggal 1 Januari dan terus menurun sampai tanggal 6 Januari ketika data ini dikumpulkan. 

Hashtags

Beberapa hashtag kemudian muncul mengiringi ‘Jakarta Banjir’ yang bertujuan mengidentifikasi percakapan tertentu atau menggiring opini para netizen terhadap apa yang terjadi di Jakarta pada periode tersebut. Hal yang menarik adalah, pada Gambar 2 terlihat dari sepuluh hashtag dengan jumlah yang besar, terdapat empat hashtag yang memberikan sentimen negatif terhadap Anies Baswedan. 

Sentimen

Satu hal yang menarik ditunggu dalam melakukan analisa sosial media adalah melihat sentimen publik (netizen) terhadap topik yang dianalisis. Sentimen bisa berarti positif atau konstruktif, bisa negatif atau destruktif, dan bisa juga dianggap netral. Sentimen positif atau negatif akan mempengaruhi pola pandang dan opini pembaca yang terlibat dalam topik tersebut. 

Berdasarkan periode 30 Desember 2019 - 6 Januari 2020, 52% publik memberikan sentimen positif dan 44% memberikan sentimen negatif. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan netizen terhadap penanggulangan banjir Jakarta lebih besar dan diapresiasi positif daripada yang memberikan apresiasi negatif. Ini terlihat pada analisa emosi pada Gambar 4 yang menunjukkan antisipasi adalah topik yang paling dominan selama Jakarta Banjir. 

Sentimen positif ini juga dibuktikan dari word cloud yang mengiringi Jakarta Banjir yang cluster terbesar cenderung beropini positif. 

 

Top Influencer

 

 

Top influencer ‘Jakarta Banjir’ selain didominasi oleh Anies Baswedan sendiri, juga didominasi oleh akun-akun netral yang cenderung positif terhadap Anies. Hal inilah menyebabkan topik Jakarta Banjir lebih menghasilkan sentimen yang positif daripada negatif. 

Namun, dalam Top Users By Engagement, akun-akun yang selama ini kontra dengan Anies lebih menguasai. Gambar 7 menunjukkan tiga akun selain akun media detikcom dan kompascom merupakan akun-akun buzzer yang selama ini selalu menyuarakan kontra terhadap Anies. Akun-akun ini akan menghasilkan sentimen negatif dan terlibat menaikkan hashtags-hashtags negatif terhadap Anies.  

Walaupun tidak terlalu signifikan, akun-akun ini didukung oleh akun-akun bot untuk memperkuat dan memperluas jangkauannya. Berdasarkan statistik, akun yang teridentifikasi bot mencapai 30% dari total akun yang terlibat, namun tidak ada data apakah bot ini pro atau kontra ke Anies.

Gambar 8 pada bot skor menunjukkan terdapat 69% dengan skor terendah 0-1 yang berarti merupakan real user yang bisa diidentifikasi, diikuti 17% pada skor 1-2, dengan skor tertinggi  mencapai 2% dari total aktif author terindentifikasi sebagai bot.  Hal yang menarik adalah akun bot ini tidak mengalami penambahan yang signifikan ketika bencana terjad dan terus mengalami penurunan. Sepertinya pengelola akun-akun bot ini tidak tertarik dengan bencana banjir Jakarta. 

Social Network Analysis (SNA)

Berdasarkan peta SNA dengan topik Jakarta Banjir, terlihat dua cluster besar dengan akun @kurawa cluster dengan sentimen negatif dan akun @aniesbaswedan cluster dengan sentimen positif. Hal yang menarik adalah kedua cluster ini tidak saling bersentuhan, akun kurawa  terkenal selalu kontra dengan Anies lebih banyak diretweet dengan akun-akun sejenis dan se-frekuensi dengannya. Cluster ini pun terbilang cukup kecil dibandingkan dengan cluser akun Anies. 

Walaupun dikepung, terlihat cluster Anies cukup besar dan seperti diproteksi oleh akun-akun influencer seperti @dandhy_laksono, @ustadtengkuzul, @helmifelis, dan @haikal_hassan. Duo ustadz ini berpengaruh besar untuk menghasilkan sentimen positif bagi Anies. 

Kesimpulan

Bencana banjir Jakarta tidak hanya menyibukkan Anies di dunia nyata, tapi juga disibukkan di dunia maya dengan menjadikan banjir ini sebagai bahan untuk menyerang Anies oleh pihak-pihak yang kontra selama ini. Namun, berdasarkan analisa Drone Emprit dengan topik Jakarta Banjir periode 30 Desember 2019 - 6 Januari 2020, 52% publik memberikan sentimen positif dan 44% memberikan sentimen negatif. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan netizen terhadap penanggulangan banjir Jakarta lebih besar dan diapresiasi positif. Top Influence juga didominasi oleh pihak-pihak yang netral dan cenderung mengapresiasi kerja Anies sebagai Gubernur Jakarta. Namun, dalam Top Users By Engagement, akun-akun yang selama ini kontra dengan Anies lebih menguasai. Akun-akun ini yang menghasilkan sentimen negatif dan terlibat menaikkan hashtags-hashtags negatif terhadap Anies. 

Secara keseluruhan, Anies Baswedan sebagai Gubernur Jakarta berkaitan dengan topik Jakarta Banjir, walaupun terlihat dikepung, tapi keliatan ‘aman-aman saja’ di sosial media. Akun-akun yang selama ini kontra hanya bermain di cluster mereka sendiri dan tidak growth up terlalu besar. Mungkin mereka tidak lagi didukung oleh bot-bot untuk memperkuat dan memperluas jangkauan. Berdasarkan statistik, akun yang teridentifikasi bot mencapai 30% dari total akun yang terlibat, walaupun tidak diketahui dengan pasti apakah bot ini pro atau kontra ke Anies. Akun-akun influencer yang selama ini menjadi die hard Anies juga terlihat sangat aktif memproteksi sehingga setiap hashtags negatif yang dimunculkan terhadap Anies tidak bertahan lama.