Reputasi Pejabat Publik di Era Kemajuan Teknologi

Seperti kita ketahui bahwa kemajuan teknologi merubah perilaku kehidupan manusia dalam berkomunikasi dan bertukar informasi. Dari yang dulunya informasi didapat dari mulut ke mulut, media cetak, media elektronik, sekarang dengan media internet kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan dunia lain cukup dengan smartphone.

Di jaman dulu, sebelum teknologi internet menyerang (halah)  bisa dibilang sebuah informasi sulit untuk menyebar secara masal. Mengapa? Karena jaman dulu untuk menyebarkan informasi butuh biaya besar. Dan juga tidak semua orang bisa membuat dan menerbitkan informasi ke publik, bisa dibilang hanya media yang bisa menerbitkan informasi masal. Penerbitan media dalam menerbitkan informasi publik harus melewati beberapa tahab penyaringan. Tidak bisa sekedar menulis langsung tayang.

Sedangkan saat ini bisa kita rasakan bahwa, pergeseran masyarakat dalam membuat dab mendapatkan informasi publik sangat mudah, melalui media sosial, aplikasi chatting, youtube, dan masih banyak media media online yang dapat kita akses secara gratis.

Tanpa perlu adanya penyaringan, sebuah informasi dapat tayang di media online tanpa kita tahu kebenaran dari informasi tersebut. 

Sebagai contoh menggunakan Sosial Media Twitter, sangat mudah sekali untuk membuat informasi publik hanya dengan membuat sebuah tweet dengan 140 karakter dan dapat dengan  mudah menyebar masal dengan fitur Retweet atau dengan tagar (hastag). Dan jangan salah, sebuah topik bisa dimobilisasi secara masal untuk menggiring opini publik, sangat berbahaya jika informasi yang tersebar adalah informasi yang belum tentu kebenarannya. Hal ini bisa menjadi boomerang bagi Pemerintah maupun reputasi publik seseorang. Dengan mobilisasi, reputasi bisa hancur seketika. 

Untuk itu, penulis melakukan studi kasus menggunakan Drone Emprit Academic sebagai media sebagai sumber pengumpulan data. Penulis menggunakan media Twitter sebagai bahan analisa percakapan publik karena Twitter merupakan platform paling aktif dalam isu-isu terkini, dan bahkan sekarang media-media berita banyak yang mengambil sumber berita dari Twitter.

No alt text provided for this image

 

Apa itu Drone Emprit? Berikut sekilas tentang Drone Emprit.

Drone Emprit atau Media Kernels adalah sistem untuk memonitor dan menganalisa Media Online dan Sosial berbasis Big Data.

Dibuat dan dikembangkan Oleh Ismail Fahmi , Phd dan mulai digunakan di Indonesia pada tahun 2012.

Menggunakan teknologi berbasis Artificial Intelligent ( Machine Learning ) dan Natural Languange Processing (NLP)

Untuk lebih jelasnya tentang Drone Emprit, bisa dicari di Internet.

Pada kesempatan ini penulis membuat Studi kasus dengan judul “ Reputasi Pejabat Publik di Era Kemajuan Teknologi” dengan kata kunci “pejabat” dan “anggota Dewan”. Namun disini penulis bukan mencari siapa dan reputasinya bagaimana, namun penulis lebih ingin menekankan bahwa teknologi berperan penting terhadap reputasi publik. Baik Pemerintah, Perusahaan, Personal dan lainnya.

Sebagai bahan analisa, tentunya harus tahu dulu berapa total data percakapan dengan kata kunci “pejabat” dan “ anggota dewan” yang diangkat. Berikut data yang diambil dari tanggal 27 November - 12 Desember 2019.

No alt text provided for this image

Dalam 15 periode hari kebelakang, Drone Emprit merekam total percakapan di Twitter mencapai 40 rb yang artinya topik dengan keyword tersebut ramai dibicarakan.

No alt text provided for this image

Twitter memiliki 3 tipe percakapan yaitu mention ( pembuatan percakapan dan topik ) , reply ( sanggahan dari topik ) dan rt ( penyebaran topik/share ).

Dilihat dari presentase, mention memiliki 16 % porsi, reply 10 % dan yang mendominasi adalah RT sebesar 73 %. Artinya yang paling banyak mendominasi adalah penyebaran informasi yaitu retweet (RT). Nah disinilah uniknya Twitter, dimana sebuah topik dapat menyebar secara masal dengan fitur ini. Kalau yang familiar dengan twitter pasti sering melihat fenomena sebuah topik bisa di Retweet ratusan bahkan jutaan kali.

No alt text provided for this image

Jika diambil data berdasarkan lokasi pengguna, ada sedikit topik dari Malaysia yang masuk kedalam topik yang diangkat, namun porsinya sedikit.

 

No alt text provided for this image

Bot score adalah pendeteksi akun dalam suatu percakapan, apakah akun real atau dibuat oleh mesin. Dari data diatas bot score menunjukan 74 % user dalam percapakan adalah akun real, masih dalam batas wajar dalam media online.

Setelah mengetahui jumlah percakapan, tipe percakapan, dan lokasi percakapan, setelah itu mari kita lihat, apa saja topik yang relevan terhadap keyword yang penulis gunakan.

Agar lebih relevan, penulis menggunakan hastag (#) sebagai contoh percakapan, karena hastag merupakan fitur mobilisasi paling populer untuk mengangkat sebuah topik menjadi viral.

No alt text provided for this image

Hastag Sindiran saya coret karena hastag tersebut berisi topik negara tentangga. Data diatas adalah hastag yang relevan dengan topik yang diangkat, sudah jelas kita tahu bahwa akhir-akhir ini yang sedang ramai diperbincangkan di berbagai Media adalah Garuda. Dan sudah jelas bahwa respon publik terhadap pejabat publik negatif. Untuk lebih jelasnya coba liat bagimana respon publik terhadap topik tersebut. Menggunakan emotion analysis.

No alt text provided for this image

Emotion analys adalah bagaimana tanggapan publik terhadap topik yang diangkat. Dalam hal ini adalah tentang Pejabat Publik. Tipe tanggapan terbagi atas 8 tipe dan yang paling besar besar porsinya adalah anger atau marah. Bisa diartikan bahwa respon publik marah ini hadir karena kekecewaan publik terhadap sebuah tragedi yang dilakukan oleh oknum pejabat.

Kesimpulan

Perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi publik tentunya memberi kemudahan bagi masyarakat untuk mencari tahu profil seseorang di Media Online. Sayangnya kemudahan dalam menerbitkan informasi publik juga menjadi salah satu momok besar bagi reputasi profil seseorang, dalam hal ini adalah Pejabat Publik. Tidak adanya filtering dan monitoring informasi publik membuat sebuah informasi dapat menjadi penggiringan opini yang dapat menghancurkan reputasi seseorang. Terlebih kurangnya kesadaran masyarakat dalam menerbitkan kebenaran infomasi. Tanpa sumber yang jelas, tanpa fakta yang akurat, dan yang menyedihkan lagi adalah kesengajaan membuat informasi publik yang tidak benar untuk menggiring opini publik demi kepentingan pihak lain. Dan semua itu membuktikan bahwa teknologi sangat berperan penting bagi reputasi Pejabat Publik.

Yang menjadi pertanyaan

Siapa yang harus bertanggung jawab mengawasi dan mengontrol informasi publik di Media Internet?

Pemerintah? Swasta? Atau masyarakat?

Jika tidak ada langkah yang segera diambil, perang informasi publik akan terus terjadi. Bagai bola salju yang terus menggulung, membesar dan dapat menghancurkan.

Tulisan penulis merupakan opini pribadi berdasarkan analisa data di Media Twitter menggunakan Drone Emprit. Tidak ada intervensi dari pihak manapun.

Sekian dan terima tanggapan beserta sharenya.