RIUH ANGKA PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA DI TWITTER

RIUH ANGKA PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA DI TWITTER

Pada awal bulan November 2019 ini, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi (y.o.y) pada triwulan III adalah sebesar 5,02 persen. Pertumbuhan ekonomi ini melambat jika dibandingkan dengan triwulan II yang mencapai 5,05 persen. Rilis ini kemudian cukup ditanggapi oleh masyarakat, hal ini ditandai dengan percakapan di twitter yang ditangkap melalui sistem berbasis web drone emprit (https://dea.uii.ac.id/).
Pertumbuhan ekonomi merupakan nilai yang menunjukkan perubahan dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada selang waktu tertentu. Pada dasarnya, PDB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu negara pada periode waktu tertentu.
Pada kurun 4 s.d 16 November, kata terkait PDB Indonesia di-mention hingga 16.422 kali dan kata terkait GDP growth (kurun 4 s.d 13 November) di-mention hingga 550 kali.

Gambar 1. Jumlah Mention Terkait PDB Indonesia di Twitter

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung cukup konstan pada kisaran 5 persen ini mendapatkan impresi yang berbeda bagi setidaknya 3 pihak. Bagi pendukung pemerintah, angka ini merupakan suatu prestasi karena dengan kondisi global yang kurang mendukung perekonomian Indonesia masih dapat tumbuh pada angka kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir. Bagi para oposan garis keras, angka ini merupakan suatu aib bagi presiden Jokowi karena beliau pernah menyampaikan akan membawa perekonomian Indonesia tumbuh sampai dengan 7 persen. Apalagi bila dihubungkan dengan pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang mencapai kisaran 6 persen, melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Kemudian dikaitkan dengan utang yang semakin besar, tetapi ternyata tidak dapat memberikan peningkatan yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi. Pihak ketiga merupakan pihak yang netral.

Gambar 2. Tanggapan Pengguna Twitter terhadap PDB Indonesia

Di jagat twitter, Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini juga mendapat perhatian analis luar negeri dari Natixis SA, Trinh Nguyen. Setidaknya ada dua hal yang disoroti. Pertama, khusus angka pertumbuhan triwulan III 2019, Nguyen merasa heran dengan pertumbuhan ekonomi yang masih dapat mencapai angka pada kisaran 5 persen padahal pengeluaran pemerintah lemah, investesi melambat, dan import yang mengalami kontraksi. Kedua, pada jangka Nguyen mengkaitkan data pertumbuhan ekonomi.dengan tren ekspor Indonesia yang mengalami penurunan dari tahun 2011. Bila ekspor mengalami menurun, lalu kemana pertumbuhan ekonominya?

Gambar 3. Kritikan Trinh Nguyen terhadap PDB Indonesia

Untuk poin pertama, Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, melalui akunnya @ChatibBasri, menjelaskan secara spesifik pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2019. Basri menyampaikan bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, maupun pengeluaran pemerintah memang mengalami pertumbuhan. Akan tetapi, pertumbuhan PDB yang hanya turun dari 5.05 persen ke 5.02 persen dikarenakan perekonomian Indonesia tertolong oleh net export. Penurunan impor yang tajam (dari 6.73 persen menjadi 8.61 persen) dan ekspor yang stabil (pertumbuhannya ke 0.02 persen dari 1.81 persen) membuat net export tumbuh lebih baik di triwulan III 2019.
Untuk poin kedua, data ekspor yang disampaikan oleh Nguyen merupakan ekspor dalam US dollar. Padahal rilis data PDB oleh BPS menggunakan rupiah. Dengan perbedaan mata uang ini, dapat terjadi kesimpulan yang keliru jika dilakukan analisis secara langsung. Penurunan ekspor ini juga lebih dikarenakan penurunan nilai mata uang rupiah pada kurun waktu 2012 sampai dengan 2018. Nilai ekspor dalam rupiah masih mengalami pertumbuhan pada kurun waktu tersebut.

Gambar 4. Perbandingan grafik ekspor dalam US Dollar dan Rupiah ( Sumber: Data Worldbank, diolah)

Gambar dapat dilihat pada link berikut:

https://www.facebook.com/moch.c.anwar.3/posts/10216107976280452

Diterbitkan oleh Mengetahui tanggapan masyarakat terhadap (https://www.facebook.com/moch.c.anwar.3/posts/10216107976280452) pada 21/11/2019