Social Network Rekrutment CPNS 2019

 

Pendahuluan

Social Network Analysis (SNA) pada awalnya digunakan oleh bidang studi psikologi, antropologi, dan sosiologi (Prell, 2012). SNA juga menawarkan sudut pandang baru, dimana teori dan konsepnya dapat dianalisis lebih lanjut seperti pariwisata (Pratama & Iqbal: 2018) dan difusi inovasi (Valente & Davis, 1990). Bahkan juga digunakan kedalam tata kelola pemerintah (misalnya pengelolaan sumber daya) sebagai cara untuk memahami dan mempelajari kolaborasi untuk penggunaan sumberdaya yang berkelanjutan (Bodin & Prell, 2011).

Crona et al (2011) menggambarkan beberapa teori yang bisa digunakan dalam tata kelola pemerintah adalah pembelajaran sosial, pengaruh sosial, dan modal sosial. Adapun teori yang mendasarinya adalah interaksi sosial, “SNA dapat digunakan misalnya sebagai alat analisis untuk memahami proses tata kelola sumber daya kolaboratif yang sedang berlangsung atau mengapa sebuah pengelolaan kolaborasi terhenti” (Crona et al, 2011:48). Pemahaman ini akan membantu meningkatkan proses manajemen dalam pemerintahan.

Salah satu fungsi dari pemerintah adalah menyebarluaskan informasi, mengkomunikasikan kebijakan, rencana kerja dan capaian kinerja kepada masyarakat luas, melalui media tradisional, media konvensional maupun media baru. Komunikasi melalui sosial media atau media baru dapat menjangkau langsung dan secara cepat kepada semua pihak yang saat ini dapat dinikmati secara luas. Masyarakat telah mengalami perubahan pola dalam berkomunikasi, selain itu masyakarat juga menjadi lebih kritis dalam menanggapi kondisi yang ada, dengan kondisi seperti ini maka kinerja pemeritah dituntut untuk mampu memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat dalam segala aspek.

Dalam hal ini pemerintah melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) akan membutuhkan feedback dari masyarakat yang merupakan sebagai sumber informasi untuk meningkatkan kinerja. Umpan balik yang didapatkan dari masyarakat tidak hanya yang bersifat positif, melainkan juga bersifat negatif. Masyarakat seringkali memberikan keluhan-keluhan terhadap pelayanan yang telah diberikan atau memberikan usulan- usulan terhadap program kerja atau sekedar ingin mengetahui informasi yang ada saat ini. Salah satu cara untuk mendapatkan feedback dari masyarakat adalah dengan menggunakan sosial media.

Data teraktual dari Wearesocial and Hootsuite (2019) pada tahun 2019 menunjukan bahwa dari 268,2 juta jiwa penduduk Indonesia, terdapat 150,19 juta jiwa atau 56% berdomisili diperkotaan. Penduduk yang berlangganan seluler atau mobile subscription mencapai 255,5 juta orang atau 133%. Dari data tersebut, terdapat 150 juta orang merupakan pengguna internet dan berselancar diberbagai media sosial serta terdapat 130 juta pengguna sosial media mobile.
Menurut Gil-Garcia (2014) integrasi, kolaborasi, dan kerja sama, ditambah dengan 
integrasi data, informasi, dan pengetahuan dari berbagai sumber dan organisasi, bisa menjadi daerah inti dari studi tentang media sosial pemerintah di tahun-tahun mendatang. Twitter merupakan jejaring sosial yang dibuat pada tahun 2006, salah satu tempat yang didedikasikan untuk individu mengekspresikan dirinya, menyatukan ratusan juta pengguna dengan konsep microblogging yang minimalis, selain itu Antarmuka Program Aplikasi (API) yang sangat terbuka, menjadikannya media yang ideal untuk melakukan riset mengenai perilaku online, kesederhanaannya membuatnya menjadi alat yang sering digunakan dalam melaporkan kejadian atau aktivitas terkini (Grandjean:2016), sehingga banyak peneliti yang melakukan penelitian di twitter seperti peristiwa gempa bumi (Sakaki, Okazaki, dan Matsuo, 2010), kerusuhan yang dilakukan oleh demonstran di London (Diaz, dkk 2014; Casilli & Tubaro, 2012), Konferensi internasional (Grandjean & rochat, 2014; Jussila,dkk:2014). Pada kasus pelayanan publik, belum banyak penelitian-penelitian sebelumnya yang melihat bagaimana jaringan sosial didalam menyebarkan sebuah informasi terutama didalam sosial media, adapun literatur-literatur sebelumnya terbatas pada melihat peran sosial media dalam perannya sebagai public relation misalnya (Pakuningjati:2015, Noor:2018, Wiratmo, dkk ;2017). Pada penelitian ini, akan dilakukan sosial network analysis pelayanan publik pada hasil pengumuman seleksi berkas CPNS pada tanggal 13 November hingga 19 November 2019 di Twitter.

Tulisan ini akan dibagi kedalam beberapa bagian, pertama menjelaskan konsep social network analysis. Kedua, membahas bagaimana jaringan stakeholder dalam penyebaran informasi mengenai CPNS 2019 serta aktor mana saja yang sangat berpengaruh dalam memberikan informasi kepada publik. Ketiga, diakhiri dengan kesimpulan mengenai jaringan yang terjadi.

Konsep Jaringan Sosial

Jaringan sosial atau network society merupakan sebuah konsep yang dirumuskan oleh Jan Van Dijk (1999). Masyarakat jaringan merupakan suatu struktur masyarakat yang muncul pada akhir abad 20, terbentuk oleh komunikasi berbagai jaringan digital. Kemajuan teknologi komunikasi mengubah pola masyarakat dalam berkomunikasi

Masyarakat membentuk struktur sosial jenis baru yang disebut sebagai society network (Cartells, 2007). Adapun Castell membagi pemikirannya tentang paradigma teknologi informasi kedalam lima karakteristik dasar: 1) Teknologi informasi bereaksi terhadap informasi, 2) informasi adalah bagian dari aktivitas manusia, maka teknologi ini mempunya efek pervasive, 3) semua sistem yang menggunakan teknologi informasi didefinisikan oleh logika jaringan, 4) teknologi baru sangatlah fleksibel dan mampu beradaptasi 5) teknologi informasi sangat spesifik, dengan adanya informasi yang terpadu maka suatu system dapat terintegrasi (Castells, 2000).

Penggunaan konsep jaringan sosial dalam penelitian ini membantu peneliti untuk menggambarkan secara mendalam mengenai proses komunikasi dan hubungan dalam suatu jaringan, selain itu penggunaan social network memungkinkan peneliti untuk menjawab fenomena sosial dan perilaku dengan memberikan definisi formal yang tepat baik untuk aspek lingkungan structural politik, ekonomi ataupun sosial (Wasserman & Faust, 1999).

Berdasarkan konsep yang dirumuskan oleh Wasserman & Faust (1999) analisis jaringan sosial dapat membantu menganalisis empat perspektif utama dari analisis jaringan berdasarkan konsep yaitu, Pertama aktor, dalam jaringan gerakan sosial aktor merupakan kunci utama, selain itu aktor juga dipandang sebagai unit mandiri yang saling bergantung dan terhubung satu sama lain. Kedua, hubungan rasional merupakan keterkaitan antar aktor gerakan sosial. Keterkaitan tersebut berupa transferinformasi atau pesan seputar isu gerakan gejayan memanggil. Ketiga, Struktur jaringan pada gerakan aktivis sebagai analisis peluang atau kendala pada tindakan individu. Keempat, model jaringan yang mengkonseptualisasikan struktur (sosial, ekonomi, dan politik) sebagai pola hubungan antar para aktor.
Aktor dalam Jaringan Sosial

Dalam analisis jaringan sosial, proses komunikasi terjadi karena adanya kebutuhan individu untuk memperoleh informasi. Proses komunikasi tersebut dapat terjadi antara dua orang atau lebih, sehingga peran aktor dalam jaringan sangatlah penting. Dalam sebuah jaringan setiap aktor memiliki perannya masing-masing, yang tergantung pada intensitas individu dalam memberikan dan menerima informasi. Analisis jaringan menunjukan bahwa setiap individu dalam jaringan memainkan peran tertentu, baik itu membantu ataupun menghambat suatu komunikasi (Harris & Nelson, 2008).

Pada ranah politik adaya struktur jaringan merupakan aspek yang sangat krusial. Sistem pemerintahan kini semakin dibentuk melalui jaringan, bahkan umumnya diatur dalam struktur jaringan (Goldensmith dan Eggers:2014) semua aktor yang berbeda terhubung oleh sistem politik-pemerintah, parlemen dan pemerintah, parlemen dan administrasi public ditingkat nasional, regional, dan lokal partai politik dan organisasi dalam masyarakat sipil, badan internasional, otoritas hukum, semi Lembaga public, perusahaan dan warga negara individu - dapat diartikan sebagai hubungan politik (kekuasaaan) dan sebagai hubungan informasi dan komunikasi (Djik Van, 2006). Aktor menjadi aspek yang paling penting dalam penelitian jaringan. Van Djik (2006) menjelaskan bahwa posisi relasi aktor dalam jaringan adalah interdependent atau saling terhubung, akan tetapi setiap aktor memiliki peran yang berbeda. Menurut Harris dan Nelson (2008) terdapat lima peran aktor dalam jaringan yaitu Stars, Liasions, Bridges (linking pins), Gatekeepers, Cosmopolites, dan Isolates.

Stars adalah aktor yang menjadi pusat jaringan. Stars memiliki hubungan dengan seluruh anggota lainnya, sehingga aktor yang memiliki pengaruh penting dalam jaringan sosial. Seorang stars dapat juga disebut sebagai opinion leader dikarenakan ia menjadi tempat bertanya mengenai masalah yang sedang dibahas. Karakter seorang opinion leader biasanya cenderung kuat, dihormati, dan diikuti walaupun tanpa memiliki peran kepemimpinan yang formal, atau bisa dikatakan ia adalah influences yang dapat menggiring opini didalam sebuah jaringan.

Gatekeeper adalah peran individu yang mengalirkan informasi kedalam suatu jaringan. Gatekeeper memiliki kapasitas yang strategis untuk memutuskan informasi mana yang akan diteruskan ke anggota kelompok lain. Adapun dua fungsi utama dari gatekeeper adalah pesan yang diterima gatekeeper mungkin diteruskan atau kemungkinan tidak diteruskan atau pesan dapat disaring. Gatekeeper dapat membuat keputusan untuk mengurangi, menambah, mengubah, menahan, atau mendorong satu pesan ke pesan lainnya. Kekuatan peran dari gatekeeper terletak pada kontrolnya terhadap akses kepesan dan informasi.

Liaisons adalah penghubung satu kelompok dengan kelompok lainnya, akan tetapi liaisons bukan anggota dalam jaringan. Liaisons membantu dalam membagi informasi yang relevan diantara kelompok-kelompok. Liaison sangat penting untuk berfungsinya organisasi secara efektif (McShane & Von Glinow dalam Harris & Nelson, 2008), karena liasions terhubung dengan berbagai kelompok dan berbagai individu, sehingga mereka menerima lebih banyak umpan balik dan memiliki lebih banyak kesempatan untuk berhubungan dengan setiap orang diberbagai kelompok.

Bridge hampir mirip perannya dengan liaisons, akan tetapi bridge merupakan salah satu anggota dari jarigan yang menghubungkan anggota kelompok. Peran bridge membantu saling dalam mengorganisasikan arus informasi internal dan mengkoordinasi kelompok.

Cosmopolites adalah individu yang memiliki tigkat komunikasi yang relatif tinggi dengan lingkungan sistem. Mereka memiliki peran untuk memberikan informasi kepada lingkungan dan membawa informasi kembali ke organisasi atau kelompok. Dengan membawa informasi eksternal ke jaringan, mereka membantu menyediakan informasi penting ke jaringan. Selain itu cosmopolites juga dapat mengumpulkan informasi dari dalam jaringan dan memberikan informasi tersebut kepadaorang-orang tertentu pada jaringan (Pace & Faules, 1998:176).

Isolate adalah anggota jaringan yang mempunyai komunikasi minimal bahkan cenderung tidak terhubung dengan anggota lain dalam jaringan.

Penggunaan konsep jaringan sosial dalam penelitian ini membantu peneliti untuk menggambarkan secara mendalam mengenai proses komunikasi dan hubungan dalam suatu jaringan, selain itu penggunaan social network memungkinkan peneliti untuk menjawab fenomena sosial dan perilaku dengan memberikan definisi formal yang tepat baik untuk aspek lingkungan structural politik, ekonomi ataupun sosial (Wasserman & Faust, 1999).

Research Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan Social Network Analysis, dimana visualisasi jaringan digunakan dengan menggunakan tipe graph. Adapun tahap dalam penelitian ini adalah dengan melakukan identifikasi topik terkait pada DEA (Drone Emprit Academi). Drone Emprit merupakan salah satu system yang berfungsi memonitoring serta menganalisa media sosial atau platform online yang berbasis teknologi bigdata. Lalu mengidentifikasikan dan memberikan makna terhadap gambar yang dihasilkan oleh Software DroneEmprit.

Hasil Social Network Analysis

Berdasarkan hasil scrawing data yang dihasilkan oleh droneEmprit Academi, Hasil sosial network analysis pada rekrutmen cpns 2019 mengunjukan bahwa akun-akun sosial media pemerintah dalam pemberikan informasi kepada publik sudah cukup aktif. Beberapa aktor sentral dalam rekrutmen cpns tahun 2019 ini adalah @kemenag_RI @BKNgoid @P3Kcpns @BPOM_RI @Kemendesa @KementerianLHK @KemenkuhamJBR @Humasjabar @KompasCom @bkdjatim @tirtoid masing-masing dari aktor sentral jaringan memiliki kelompok-kelompok kecil didalam jaringannya, dan setiap jaringan memiliki informasi yang berbeda-beda, namun pada kasus rekrutment cpns 2019 ini tidak ada aktor penghubung yang menghubungkan satu kelompok ke kelompok yang lainnya. Sehingga, kelompok-kelompok didalam jaringan ini hanya terhubung berdasarkan kepentingan-kepentingan dari kelompok dan anggota kelompok itu sendiri, namun tidak memiliki hubungan dengan kelompok lainnya yang tidak memiliki kepentingan serupa. Konsep yang sama yang di ungkapkan Keib & Himelboim (2016) didalam risetnya, bahwa dalam media sosial basis jaringan cenderung kurang saling berhubung, dan sering dari subkelompok yang berbeda serta saling terputus.

Adapun influencers yang memiliki tingkat engagements (interaktif) paling tinggi dalam memberikan berbagai informasi mengenai lulus seleksi berkas adalah media kompas, dengan total 81 engagements. Beberapa akun lembaga pemerintahan lainnya seperti @bkdjatim, @kemenag_RI, dan @BKNgoid juga menjadi akun-akun teratas dalam memberikan informasi seputar hasil seleksi berkas pada rekrument cpns 2019. Sedangkan akun @alkautsharrr adalah seorang pengguna yang membagikan link tentang soal-soal pengenai cpns.

Penutup

Media sosial memobilisasi pengguna, menjangkau berbagai pengguna, dan melibatkan aktor-aktor sosial utama lainnya seperti berita, media dan pembuat keputusan (Hussain & Howard, 2013; Carty, 2014; Hwang & Kim, 2015; Lindgren, 2013). Keberadaan media sosial menjadi platform populer untuk membuat dan bertukar konten (Kaplan & Haenlein, 2010), dalam kasus rekrutmen cpns ini setiap aktor pemerintah telah dengan interaktif dalam memberikan infrormasi kepada publik mengenai rekrutment cpns 2019, namun tidak ada jaringan yang menghubung antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, dikarenakan setiap kelompok memiliki kepentingan yang berbeda.

Adapun penelitian ini hanya mengambil data dalam rentan waktu 6 hari, sehingga jaringan data yang terjadi belum terlalu padat, maka dari itu diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dan lebih dalam mengenai bagaimana jaringan sosial stakeholder dalam memberikan informasi kepada publik, pada penelitian ini penulis juga tidak menghitung nilai kepadatan dari setiap aktor-aktor sentral.

 

Daftar Pustaka

Agustina, Lidya. (2015). Pemanfaatan Media Sosial untuk Implementasi E-Government.

Beguerisse-Diaz, M., Garduno-Hernandez, G., Vangelov, B., Yaliraki, S. N., & Barahona, M. (2014). Interest communities and ow roles in directed networks: The Twitter network of the UK riots. Journal of the Royal Society Interface, 0940. doi:10.1098/rsif.2014.0940

Casilli, A., & Tubaro, P. (2012). Social media censorship in times of political unrest—A social simulation experiment with the UK riots. Bulletin of Sociological Methodology/Bulletin de Me?thodologie Sociologique, 115, 5–20. http://dx.doi.org/10.1177/0759106312445697

Castells. M., 2000. The Rise of The Network Society. Oxford Blackwell

Castells. M., 2007. Communication, power and counter power in the network society. International Journal of communication 1 (2007), 238-266 : IJOG.ORG

Grandjean, M., & Rochat, Y. (2014). The digital humanities network on Twitter (#DH2014). Retrieved from http://www.martingrandjean.ch/ dataviz-digital- humanities-twitter-dh2014/

Grandjean, Martin (2016) A social network analysis of Twitter: Mapping the digital humanities community. Cogent Arts & Humanities. http://dx.doi.org/10.1080/23311983.2016.1171458

Harris, T.E & Nelson, M.D (2008). Applied Organizational Communication. NY, London: Lawrence Erlbaum Associates.

Isa, D., & Himelboim, I. (2018). A Social Networks Approach to Online Social Movement: Social Mediators and Mediated Content in #FreeAJStaff Twitter Network. Social Media + Society. https://doi.org/10.1177/2056305118760807

Jussila, J., Huhtamaki, J., Henttonen, K., Karkkainen, H., & Still, K. (2014). Visual network analysis of Twitter data for co-organizing conferences: Case CMAD 2013. System Sciences (HICSS), 1474–1483.

J. Ignacio Criadoa, Rodrigo Sandoval-Almazanb, J. Ramon Gil-Garciac, 2013. Government Information Quarterly. Government innovation through social media, 30(319-326),pp.5

Keib, K., & Himelboim, I. (2016). Important tweets matter: Predicting retweets in the #blacklivesmatter talk on Twitter. Paper presented at the Annual Conference of the Association for Education in Journalism and Mass Communication, Minneapolis, MN, 4–7 August

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia, 2012. Pedoman Pemanfaatan Media Sosial Isntansi Pemerintah. Jakarta: Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia

Pakuningjati, Anindita Lintang (2015). Pengelolaan Media Sosial dalam Mewujudkan Good Governance (Studi Kasus Pengelolaan Media Sosial LAPOR! sebagai Sarana Aspirasi dan Pengaduan Rakyat secara Online Oleh Deputi I Kantor Staf Presiden). Skripsi, Universitas Gadjah Mada

Pratama, Rhiki., Iqbal Mohammad (2018). Analisis Pemetaan Jejaring Stakeholder Pariwisata di Kota Batu Dengan Menggunakan Metode Social Network Analysis (SNA). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB)|Vol. 54 No.1 Januari 2018| administrasibisnis.studentjournal.ub.ac.id

Prell, Christina. (2012). Social Network Analysis: History, Theory and Methodology. SAGE Publication

Sakaki, T., Okazaki, M., & Matsuo, Y. (2010). Earthquake shakes Twitter users: Real- time event detection by social sensors. World Wide Web, 851–860.

Van Dijk, J (2006) The network Society. Social Aspects of new media. London: Sage publications

Rahmawati, Aulia (2018) Penerapan Aspek Pengelolaan Website Sebagai Bentuk Cyber

Public Relations (Studi Pada Dinas Komunikasi dInformatika Kabupaten

Pasuruan). Bachelors Degree (S1) thesis, University of Muhammadiyah Malang.

Wasserman. S., Faust. K., (1999) Social Network Analysis: Methods and Applications. United Kingdoms: Cambridge University Press

Wiratno, Liliek Budiastuti, Irfan., Noor, dan Kuwatono (2017). Website Pemerintah Daerah Sebagai Sarana Online Public Relations. Jurnal ASPIKOM, Volume 3 Nomor 2, hlm 326-339

 

 

Diterbitkan oleh academia.edu pada 14/01/2020