Sulli dan Psikologi Manusia di Era TI

Sulli dan Psikologi Manusia di Era TI

Oleh: Indri Sudanawati Rozas

#textmining #droneemprit #DEANet4

 

Saya pribadi sebenarnya cukup bingung ketika di facebook sebulanan lalu orang-orang mulai menulis tentang Sulli. Siapa sih Sulli ini? Saya benar-benar tak tahu siapa ia. Karena memang sudah beda genre dan beda usia mungkin ya. Tapi akhirnya saya klik beritanya. Dan kemudian mengelus dada. Betapa menyedihkan akhir hidupnya.

Ternyata bukan hanya saya yang tak berhenti membicarakan Sulli. Semenjak kematiannya, Sulli disebut sebanyak 124.198 kali di twitter dari seluruh penjuru dunia. Ini gambar geografis netizen mana yang membicarakannya di twitter melalui drone emprit.

Masih berdasarkan pantauan drone emprit, data pembahasan Sulli masih terus bergulir ternyata sejak ia meninggal hingga dua hari lalu. Bahkan semakin banyak yang membahasnya pada akhir Oktober. Ini gambarnya.

Okey. Saya kemudian sore ini iseng browsing terkait Sulli. Dari kompas disebutkan bahwa ternyata oleh sembilan anggota Majelis Nasional Korea tengah diajukan RUU yang secara resmi akan dibahas pada hari ke-49 kematian Sulli, pada awal Desember nanti, di National Assembly Center. Usulan itu berdasar pada kasus Sulli yang diduga bunuh diri karena depresi akibat sering menerima ujaran kebencian. RUU ini disebut sebagai "Sulli Act" atau "Sulli Law" alias Hukum Sulli. RUU baru ini bertujuan untuk menegakkan aturan ketat terhadap komentar jahat, terlebih oleh akun anonim.

Dan sebagai pengampu mata kuliah etika profesi, termasuk di dalamnya etika di dunia IT, saya mencoba membuka beberapa handbook yang saya miliki. Saya ingin melihat, sejak kapan sih cyberbully ini masuk pembahasan resmi. Saya mencoba membuka buku tertua.

Buku berjudul "Contemporary Issues in Ethics and Information Technology" diterbitkan pada tahun 2006. Ditulis oleh Robert A. Schultz Woodbury University, USA. IRM Press. Tidak ada kata hoax, cyberbully. Mungkin saat itu mereka tak terbayang akan terjadi kasus seperti ini. Pun sama dengan buku lama saya berjudul “THE HANDBOOK OF INFORMATION AND COMPUTER ETHICS” tahun 2008. Penerbit John Wiley & Sons, Inc. Kanada. Saya search kata bully dan hoax. Nihil.

Dan kemudian saya buka buku yang saja pakai untuk mengajar semester lalu: “Ethics in Information Technology” Fifth Edition. Ditulis oleh George W. Reynolds, Strayer University. Penerbitnya Cengage Learning USA. Buku ini diterbitkan pada tahun 2015. Mulailah saya menemukan banyak hasil ketika memasukkan kata kunci bully.

Ya. disebutkan sejak pendahuluan hingga akhir. Bahkan ada sub bab berjudul cyberbullying. Di sub bab tersebut disebutkan tiga kasus bunuh diri yang terkait dengan IT. Saya kopikan ya. "In 2010, a Rutgers freshman committed suicide after he learned his roommate used a webcam to film him having sex with another man and then posted the video to Twitter. A 15-year-old California girl took her own life after photos of her being sexually assaulted were posted online and shared among her classmates in September 2012. Friends of a 16-year-old Florida girl who hung herself in late 2012 say it was due to cyberbullying on the social networking Web site Ask." Data berhenti pada tahun 2012. Padahal buku ditulis 2015. Apakah dalam rentang 3 tahun (2012 – 2015) tak terjadi bunuh diri karena bully? Entah. Bisa jadi ada namun tak terblow up media. Dan muncullah kasus Sulli ini di tahun 2019. Sangat ramai dibicarakan karena ia seorang publik figur. Mungkin akan dibahas di buku tersebut edisi selanjutnya.

Saya masih mencoba membuka buku lainnya yang ada di laptop. Ada satu lagi buku yang saya gunakan semester lalu, judulnya "Ethics for the Information Age" Sixth Edition. Penulisnya Michael J. Quinn, Seattle University. Buku ini diterbitkan oleh Pearson tahun 2015. Ketika saya coba search kata bully, sama dengan sebelumnya, ia menjadi sub bab tersendiri. Hanya bedanya di buku ini saya temukan kata kunci lain yakni hoax, dimana itu tak dibahas di buku sebelumnya.

Jadi, apa kesimpulannya? Kesimpulannya, cukuplah Sulli korban terakhir cyberbully. Mari semakin dewasa dan menghargai manusia. Ingatlah, di setiap layar yang disentuh oleh sepasang tangan, ada hati yang merasa. Pahami psikologi sesama.

Saya teringat 7 Core Rules of Netiquette. Dimana Rule 1nya adalah: Remember the Human. Penjelasannya: when communicating electronically, whether through email, instant message, discussion post, text, or some other method, practice the Golden Rule: Do unto others as you would have others do unto you. Remember, your written words are read by real people, all deserving of respectful communication. Before you press "send" or "submit," ask yourself, "Would I be okay with this if someone else had written it?"

Semoga tulisan ini bermanfaat, baik bagi diri kita sendiri atau siapapun yang berinteraksi dengan kita di melalui perantara dunia IT.

 

Surabaya, 15 November 2019.

Diterbitkan oleh Untuk edukasi (https://www.facebook.com/indrisrozas/posts/10217777198114287) pada 15/11/2019