Susi Effect: Konflik Natuna dan Kicauan Netizen

Oleh: Aiman Bahalwan

Peristiwa pencurian ikan di Laut Natuna oleh kapal China tengah ramai menjadi perbincangan warganet. Pasalnya, pencurian ikan bukan terjadi kali ini saja. Bulan Oktober 2019 lalu juga terjadi pengusiran nelayan Indonesia oleh kapal Coast Guard China di Laut Natuna.

Fenomena ini menuntut pemerintah untuk bersikap tegas terhadap siapapun yang mengambil kedaulatan wilayah NKRI. Tak terkecuali Susi Pudjiastuti, Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan periode 2014–2019 ini mengkritik sikap pemerintah yang cenderung menganggap remeh persoalan ini. Setuju dengan pendapatnya, banyak warganet meretweet postingan Susi Pudjiastuti di media sosialnya.

Bagaimana tanggapan netizen terhadap peristiwa ini? Apa saja yang dibicarakannya? Mari simak analisis saya dengan menggunakan data dari Drone Emprit Academic.

Trends

Akhir-akhir ini peristiwa pencurian ikan di Laut Natuna ramai dibicarakan warganet. Tren percakapan meningkat tajam pada 4 Januari 2020, hal ini dipicu oleh tanggapan Susi Pudjiastuti di media sosial twitter.

Sehari berselang, tren percakapan terus menurun hingga 8 Januari. Sempat mengalami kenaikan pada 9–10 Januari, volume percakapan kembali turun pada 11 Januari 2020.

Sentimen

Pencurian ikan oleh China di Laut Natuna menimbulkan rasa geram warganet hampir di seluruh Indonesia. Sentimen negatif terlihat mendominasi seluruh percakapan tentang peristiwa ini.

Sentimen negatif makin meningkat usai Susi Pudjiastuti menanggapi peristiwa tersebut. Susi mengkritik pemerintah agar tegas memisahkan hubungan diplomatik antar negara dengan pencurian ikan.

Meski demikian, beberapa warganet juga mengapresiasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sigap mengamankan Laut Natuna dengan mengusir kapal pencuri ikan asal China.

Top Retweets

Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti mendominasi percakapan tentang pencurian ikan di Laut Natuna. Tanggapan pemerintah yang berharap agar peristiwa ini tak perlu dibesar-besarkan dirasa cukup mengecewakan. Pemerintah seharusnya tak perlu khawatir penindakan terhadap kapal pencuri ikan asal China akan mengganggu investasi dan hubungan baik antar negara.

Tweet Susi pada 3/1 mendapatkan tanggapan positif dari warganet. Seolah mewakili pendapatnya, warganet beramai-ramai meretweet postingan Susi di Twitter.

Emotion Analysis

Beragam emosi ditunjukkan oleh warganet dalam menanggapi peristiwa ini. Perasaan khawatir mendominasi keseluruhan percakapan, disusul oleh perasaan marah dan sedih. Namun, perasaan senang dan percaya juga ada. Perasaan ini beriringan dengan kesigapan TNI mengamankan kedaulatan NKRI.

Most Resources by Device

Dari total 13.662 percakapan tentang pencurian ikan di Laut Natuna, mayoritas berasal dari warganet pengguna android. Pengguna twitter dari iPhone dan Web App mengisi urutan kedua dan ketiga. Sedangkan pengguna iPad menempati empat besar pecakapan topik ini di twitter.

Social Network Analysis (SNA)

Berdasarkan pengamatan peta SNA terlihat lingkaran besar yang berpusat pada akun Susi Pudjiastuti. Hal ini menggambarkan bahwa tweet Susi tentang pencurian ikan di Laut Natuna banyak di retweet oleh Warganet.

Warna merah yang dominan juga menunjukkan besar dan meratanya tanggap negatif warganet terhadap peristiwa ini.

Sekilas tentang Drone Emprit Academic

Drone Emprit Academic adalah sebuah sistem big data yang menangkap dan menganalisis percakapan di media sosial khususnya Twitter, yang dikembangkan oleh PT Media Kernels Indonesia, dan dipasang di data center Badan Sistem Informasi (BSI) Universitas Islam Indonesia. Drone Emprit menggunakan layanan API (Applications Programming Interface) dari Twitter untuk menangkap percakapan secara semi realtime melalui metode streaming.

Demikian analisis saya tentang percakapan netizen perihal Pencurian ikan di Laut Natuna oleh kapal China di media sosial Twitter. Semoga bermanfaat.

Referensi:
Ismail Fahmi, 2017. Drone Emprit: Konsep dan Teknologi. IT Camp on Big Data and Data Mining.

*) Penulis dan Alumni Ilmu Politik Universitas Airlangga