Warganet dalam Digitalisasi Keistimewaan

 

 

Bila merujuk rilis resmi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) teridentifikasi ada sekitar 33 informasi palsu dan 849 situs provokatif yang menyebarkan berita palsu (hoax) terkait aksi protes di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat. Akan tetapi disaat kegaduhan menyelimuti media sosial, mendadak viral sebuah video dengan tajuk “Srawung dan Tutulung” produksi tim Paniradya Kaistimewan. “Dalam video tersebut digambarkan seorang warga Yogya yang membantu mahasiswa Papua disaat motor yang dikendarai kehabisan bensin. Warga Yogya itupun membantu membelikan bensin tanpa meminta imbalan apapun.”.

Pesan yang ingin disampaikan dalam video tersebut adalah mendorong semua anak bangsa untuk saling mengenal, tetap menjaga persatuan hingga mengedepankan budaya tolong menolong. Sebab, bila dirunut budaya “Srawung dan Tutulung” merupakan ciri khas budaya sekaligus salah satu bentuk keistimewaan Yogyakata. Budaya yang sejatinya harus terus dibumikan dan dikenal luas oleh warganet terutama generasi milenial. Selain itu pula, budaya ini harus terus dipertahankan dan dilestarikan ditengah derasnya budaya luar yang dibawah oleh digitalisasi dalam semua lingkup kehidupan.

Dengan kata lain, pesan-pesan dari video “Swarung dan Tutulung” merupakan satu bentuk nyata dari digitalisasi keistimewaan. Sebab digitalisasi keistimewaan itu tidak hanya sekedar menyulap Yogyakarta, penuh sesak dengan aplikasi digital. Ataupun mengaliri internet kesemua penjuru Yogyakarta. Akan tetapi digitalisasi keistimewaan dalam kontek penulis adalah memproduksi secara digital semua artefak sejarah, budaya, seni, kuliner dan apapun yang mendukung keistimewaan Yogya.

Digitalisasi keistimewaan ini juga meliputi potret semua ruang-ruang yang telah dibangun dari dana keistimewaan (Danais). Sekaligus mengemas budaya keseharian masyarakat Yogya dalam bentuk digital yang kemudian bisa dengan cepat dikonsumsi oleh publik. Dengan hadirnya digitalisasi keistimewaan Yogya tentu bisa dengan cepat memunculkan kata kunci (keyword) keistimewaan Yogya, Sebab, jangan sampai kemudian, ketika warganet mencari kata kunci “Yogyakarta” yang muncul adalah berbagai aksi intoleransi, hingga banalitas yang jauh dari nilai-nilai keistimewaan.

Salah satu kata kunci dalam digitalisasi Keistimewaan Jogja yang tengah dibangun oleh publik adalah tagar #SelasaWagenMaliboro dan #MalioboroForPedestrian. Kedua tagar ini banyak dibicarakan oleh warganet Yogyakarta dan sekitarnya. Hal itu ditujukan agar publik bisa semakin mengenal dengan kawasan malioboro yang bebas berkendaraan atau dikenal Selasa Wagen. Bila merujuk hasil percakapan yang diperoleh dari Drone Emprit Academic 2019 dengan kata kunci #SelasaWagenMalioboro terdapat partisipasi yang cukup intens dari warganet Yogyakarta dan seluruh Indonesia. Berikut asal warganet yang berkontribusi dalam mendongkrak tagar #SelasaWagenMalioboro.

 

 

 

 

 

Mengapa Selasa Wagen begitu banyak menarik atensi warganet? Hal itu disebabkan Selasa Wagen kawasan Malioboro bebas dari kendaraan bermotor. Sedangkan yang boleh melintas adalah becak, dokar, sepeda, dan bus Trans Jogja. Selasa Wagen merupakan hari lahir dan pasaran Ngarso Dalem, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Selasa Wage merupakan perhitungan berdasarkan hari pasaran dalam kalender Jawa atau disebut Selapanan yang jatuhnya tiap 35 hari sekali. Jadi filosofi tersebut telah mencerminkan salah satu Keistimewaan Yogyakarta. Berikut digambarkan interaksi dari para warganet yang telah mengunakan tagar #SelasaWagenMalioboro.

 

 

Gambar tersebut menunjukan bahwa untuk kategori wilayah daerah seperti Yogyakarta, interaksi yang terjadi cukup tinggi. Ada 104 mention dan sebanyak 706 retweet.  Sedangkan para influencer yang banyak memberikan kontribusi dalam percakapan ini. Para influencer ini berasal dari akun pribadi, lembaga dan akun publik. Berikut  digambarkan dibawah ini;

 

 

 Dalam data percakapan ini juga dijelaskan beberapa video dan image yang banyak disukai oleh wargamer. Terbukti dari banyaknya interaksi terhadap akun warganet yang konten foto dan video tersebut. Akan tetapi tampak konten foto dan video banyak yang disukai yang bertemakan Yogyakarta.

 

Video yang paling disukai warganet

 

 

 

Image yang paling banyak disukai warganet

 

Gambaran diatas semakin menunjukkan bahwa masih sangat sedikit kita temui konten-konten maupun pesan yang berbau keistimewaan dikemas secara digital. Padahal warganet terutama di Yogyakarta akan sangat rindu dengan berbagai konten yang berbau Keistimewaan Yogyakarta. Artinya, tidak ada acara lain untuk membumikan keistimewaan Yogyakarta adalah melakukan digitaliasi terutama dalam hal konten dan pesan yang ingin disampaikan kepada warganet. Apalagi masih banyak masyarakat Yogya maupun nasional yang belum mengenal apa saja yang menjadi ciri khas dari keistimewaan Yogyakarta. Dengan begitu, digitalisasi keisitimewaan melalui konten-konten kreatif yang membanjiri media sosial akan dapat memiliki dampak yang signifikan untuk ikut membenamkan hoax, intoleransi dan ujaran kebencian. Seperti yang digambarkan beberapa cuitan warganet berikut ;

 

 

 

 

 

 

 

Dengan demikian, memaknai keistimewaan era post-truth adalah bersama-sama membangun semangat gotong-royong digital untuk ikut memproduksi konten-konten keistimewaan dengan kreativitas masing-masing. Dengan begitu kedepan warganet akan semakin mengenal dan paham apa itu keistimewaan Yogya.

 

 

 

Singkat kata, Yogyakarta menyimpan segudang artefak nilai-nilai budaya yang sarat akan keberagamaan dan kebangsaan. Oleh sebab itu, kita berharap Lembaga-lembaga yang bertugas mengurus Keistimewaan Yogyakarta, seperti Paniradya Kaistimewaan bisa bergerak cepat melakukan program digitaliasi keistimewaan dengan konten-konten yang bisa dikonsumsi oleh publik, sebelumnya semuanya terlambat.

 

 

 

 

Diterbitkan oleh Menganalisis Partisipasi Warganet Jogja (http://ariantobambang.blogspot.com/2019/11/warganet-dalam-digitalisasi-keistimewaan.html) pada 05/12/2019